PILAR-PILAR SUKSES KEHIDUPAN

Tahukah Anda, “pilar-pilar pondasi kehidupan”, yang kadang kita sendiri tidak pernah menyadarinya, bahkan sering kali mengabaikannya.

Sudah seharusnya-lah pondasi kehidupan kita ini, yang memang harus di perbaiki, agar kehidupan kita menjadi lebih bermakna, penuh kedamaian dan penuh keberkahan.

Penghidupan bermasalah, karena kehidupan bermasalah, dan kehidupan bermasalah karena penghidupan bermasalah.

Jika kita pernah mengalami hidup yang tertatih-tatih, baik dalam kehidupan keluarga, dalam usaha/bisnis, dalam sosial bermasyarakat atau bahkan dalam lingkungan sosial kita.

Ini sebenarnya adalah penyakit, yang sesungguhnya obatnya ada dalam diri kita sendiri.

Adapun solusi atas segala masalah tersebut, yang sekian lama dicari obat penawarnya, tidak kunjung datang, namun ternyata ada pada pilar kehidupan, berikut ini :

  1. Perbaiki hubungan kita kepada Allah SWT

  2. Perbaiki hubungan kita terhadap orang tua

  3. Perbaiki hubungan kita dengan keluarga (istri/suami dan anak)

  4. Perbaiki hubungan kita terhadap sesama yakni, tetangga, lingkungan, atau komunitas dan lainnya.

  1. Memperbaiki hubungan kita kepada Allah.

Sudahkah kita memiliki hubungan baik dengan Allaah SWT?

Karena rezeki, uang, kesuksesan adalah hak prerogatif Allah.

Allah yang mengangkat derajat seseorang ke posisi yang paling mulia, dan kemudian Allah pulalah yang menurunkan derajat tersebut sampai ke titik paling rendah.

Maka, hubungan pertama inilah yang harus kita bina dengan sebaik-baiknya.

Menomorsatukan Allah diatas segalanya, dalam keadaan apapun, bagaimanapun, dan dimana pun.

Jika Allah di nomor satu-kan, maka Allah yang akan menghadirkan banyak keajaiban, yang kehadirannya tak di sangka-sangka sebelumnya.

Usaha/bisnis yang insya Allah, makin mendekatkan kita lebih dekat kepada Allah, oleh karena sholat kita, dzikir kita, dhuha kita, dan tilawah kita setiap waktu.

Bukan malah sebaliknya, dengan usaha/bisnis, kita malah semakin lalai dan menjauh dari Allah SWT, karena itu akan menjadi sebuah bencana, bagi kehidupan kita, dan keluarga kita.

Jangan sampai karena kesibukan bisnis, sholat kita mendapat bagian dari sisa-sisa waktu kita.

Dhuha bila ingat saja, membaca Al Qur’an ketika ada yg meninggal dunia, atau bahkan pada saat Ramadhan saja, dan mau sedekah bila kita sudah kaya?

Semoga dengan kita berkomunitas ini, kita memiliki frekuensi yang sama, untuk saling mengingatkan, dan saling menasehati diantara kita.

Dan kita juga berusaha untuk mengedepankan berjamaah, dalam ikhtiar berjuang membangun ekonomi yang berbasis keummatan.

Semoga, kita bisa menjadi pribadi yg berkarater TAQWA, sehingga kehidupan kita, kedepannya menjadi pribadi yang berkarakter dan pribadi yang mulia.

  1. Memperbaiki hubungan kita terhadap Orang Tua.

Membuat orang tua bahagia, hal itu jelas menjadi harapan dan impian kita semua.

Mungkin kita masih belum bisa menjadi anak yang berbakti dan sempurna di mata orang tua kita.

Namun kita rela dan ikhlas untuk melakukan berbagai hal, serta bekerja lebih keras lagi untuk membuat kehidupan orang tua kita menjadi lebih baik.

Kebanyakan diantara kita, berpikir cara membahagiakan orang tua adalah dengan materi. Diantaranya dengan memberinya uang banyak dan semua hal yang bersifat kebendaan.

Padahal, untuk membahagiakan orang tua tidak harus dengan materi, atau bahkan tidak perlu menunggu kita kaya.

Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an, yang artinya :

Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”

(QS. Al Isra : 24)

Orang tua, mungkin tak pernah meminta apapun dari kita. Namun orang tua adalah orang yang paling berjasa dalam hidup kita, dan kasih sayangnya sepanjang masa.

Sudah begitu banyak pengorbanan dan hal-hal yang mereka lakukan untuk kita. Maka kita sebagai anak, sisakanlah waktu walaupun sedikit, untuk menengoknya, menjenguknya dan berkunjung di rumahnya.

Bahagiakanlah mereka dengan melakukan hal-hal terbaik di kehidupan ini, serta menjadi orang yang sukses, niscahya orang tua akan senang dan bahagia.

Ingat, ridho Allah bersama keridhoan kedua orang tua, dan murka Allah bersama kemurkaan kedua orang tua kita.

  1. Perbaiki hubungan kita dengan keluarga (istri/suami dan anak).

Rezeki yang diturunkan Allah bukan hanya milik kita sendiri, melainkan ada hak pasangan dan hak anak-anak kita.

Memberikan nafkah kepada keluarga (anak istri) adalah suatu kewajiban, bahkan itu juga merupakan suatu sedekah.

Karena infaq dan sedekah bukan hanya dalam bentuk harta, yang biasa kita berikan kepada para fakir dan miskin, kalau Infaq dan sedekah hanya seperti itu, maka akan sangat sedikit yang bisa melaksanakannya.

Dalam Islam memberikan nafkah kepada  keluarga (istri dan anak) adalah sesuatu perbuatan yang mulia, bila semua itu kita niatkan untuk mencari Ridho Allah SWT, maka ia akan dinilai sebagai sebuah sedekah.

Rasullullah SAW bersabda, yang artinya :

“Sesungguhnya seorang muslim jika ia menafkahi keluarganya dengan mengharap balasan dari Allah semata, maka bagi dia pahala bersedekah”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Sesungguhnya Allah SWT, memberikan sebuah penghargaan bagi kita, yang menjadi tulang punggung keluarga, bilamana kita bekerja keras untuk menafkahi keluarga hanya mengharap ridha Allah SWT, sudah termasuk beredekah.

  1. Memperbaiki Hubungan dengan Sesama (hablum Minan-Nas).

Yakni; ketika hubungan vertikal kita kepada Allah sudah benar, terhadap orang tua sudah baik, dengan pasangan sudah harmonis dan selalu mesra, terhadap anak-anak sudah berkasih sayang, maka terhadap tetangga sekitar dan lingkungannya juga harus di jaga dan di perbaiki.

Bagaimana sedekah kita, infaq kita dan zakat kita sudah kita tunaikan dengan benar, sudah kita laksanakan dengan sempurna apa belum.

Itulah pentingnya hubungan kita terhadap sesama dan lingkungan sekitar.

Leave A Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Hubungi Sekarang !