APAKAH RUMAH SYARIAH AMAN?

Oleh : Tamyis Sukses

Akhir-akhir ini, kita disuguhi berita dan kehebohannya, yang sungguh sangat memprihatinkan.
Mulai dari biro travel sampai perumahan yang notabene syariah, namun kejadian itu nyata, dan benar adanya.
Ada yang menjadi korban, jumlahnya ribuan, ada yang menjadi pelaku dan tersangka, dan sudah ditahan, ada yang menjadi terdakwa juga ditahan, ada yang sedang menjalani hukuman, bahkan sekarang ada yang sudah keluar dari tahanan, namun tidak terekspos oleh media maupun sosmed.
Kasihan bapak pertiwi, yang sudah mengumpulkan uang receh mulai dari kecil, dan begitu uang sudah terkumpul dan cukup untuk berangkat umroh, namun masih mempertimbangkan mencari yang termurah, agar bisa juga membeli oleh-oleh waktu pulang, untuk kerabat dan tetangga sekitarnya.
Mereka daftar di biro umroh First Travel, yang konon telah memberangkatkan beberapa jamaah, dan dengan bangganya bercerita kepada tetangga sekitarnya, yang belakangan bermasalah keuangan, sehingga dirutnya di tahan dan menjadi terdakwa, yang yang assetnya mulai disita oleh negara.
Mereka gigit jari, karena tidak bisa berangkat umroh.
Mereka-pun akhirnya pindah biro travel yang berbau syar’i dan amanah, lalu mendaftar ke Amanah Bersama Ummat (ABU TOUR), dengan harapan bisa berangkat ke tanah suci dan bisa umroh dengan hikmad, tenang dan nyaman.
Di ABU tour juga demikian, mereka gagal berangkat, biro travel yang terlihat amanah dan syar’i tersebut juga kesulitan keuangan akibat kesalahan managemen dan owner yang merangkap direktur yang menyalah gunakan modalnya dengan cara menggulung modalnya untuk keperluan lainnya.
Sebagaimana First Travel, Abu Tour juga di pailitkan, sehingga gagal menjadi biro umroh & haji yang amanah seperti namanya.
Mereka akhirnya mencoba mendaftar haji melalui pemerintah secara resmi, dengan harapan bisa berangkat haji, namun apa yang terjadi, secara sepihak, pemerintah membatalkan keberangkatan haji, di tahun 2020 dan tahun 2021 dengan alasan pandemi, dan sebagainya.
Kasihan betul nasib babak pertiwi ini, umroh gagal, haji tertunda, entah sampai kapan.
Dengan sisa uang yang masih ada, mereka berkeinginan membeli rumah agar bisa memberi perlindungan dan rasa tentram keluarganya, di pilihlah rumah dengan skema pembayaran yang konon syariah.
Dalam hati saya penasaran, dan bertanya-tanya; mengapa hanya ketika memilih rumah bilang syariah, namun pas membayar makanan di warung, maupun di restauran tidak memperdulikan akadnya syar’i atau bathil.
Mungkin karena makanan yang nilai uangnya terlalu kecil, sehingga kesyar’i-annya di abaikan, dan akadnya tidak dipermasalahkan.
Rumah yang mereka idam-idamkan dan akan menjadi tempat berteduh, dari terik matahari dan hujan, yang sudah 4 tahun lamanya mereka menunggu, ternyata masih berupa lahan kosong, yang penguasaannya oleh developer syariah tersebut masih di pertanyakan, karena pembayarannya belum lunas.
Akhirnya rumah yang mau di belipun hanya sebatas janji, yang sampai 4 tahun kemudian tidak ada kejelasannya, mau refund uangnya yang sudah di setorkan juga susah, karena uangnya sudah terlanjur habis, diputar dan dipakai DP lahan lainnya, yang juga tidak jelas kelanjutannya.

Begitulah derita dan nasib bapak pertiwi, yang bertubi-tubi menerima kenyataan dan nasib buruk, semoga esok hari bapak pertiwi berbenah, pemerintahnya juga nggenah, biro travel yang dipilihnya juga amanah.

Leave A Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Hubungi Sekarang !